
Peraturan Perpajakan
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. NOMOR 159/PMK.04/2009
Tahun 2009
PERATURAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 159/PMK.04/2009
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
- bahwa untuk meningkatkan pengawasan terhadap peredaran
minuman mengandung etil alkohol buatan dalam negeri perlu dilakukan
penyempurnaan ketentuan yang mengatur mengenai cara pelunasan cukai;
- bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan
Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2008 tentang
Pelunasan Cukai;
Mengingat :
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3613) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang
Nomor 39 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755);
- Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005;
- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2008
tentang Pelunasan Cukai sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 09/PMK.04/2009;
MEMUTUSKAN
:
Menetapkan :
PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI
KEUANGAN NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2008
tentang Pelunasan Cukai sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 09/PMK.04/2009, diubah sebagai berikut:
1.
Ketentuan Pasal 4 ayat (1), ayat
(2), dan ayat (4) diubah, sehingga Pasal 4 berbunyi sebagai berikut :
Pasal
4
(1)
Pelunasan
cukai dengan cara pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
huruf a dilakukan atas barang kena cukai berupa:
- MMEA yang dibuat di
Indonesia dengan kadar etil alkohol sampai dengan 5% (lima
persen); dan
- etil alkohol.
(2)
Pembayaran
cukai MMEA yang dibuat di Indonesia dengan kadar etil alkohol sampai dengan
5% (lima persen) atau etil alkohol yang dibuat di Indonesia dilakukan
melalui bank persepsi atau pos persepsi.
(3)
Pembayaran
cukai etil alkohol yang berasal dari impor dilakukan melalui bank devisa
persepsi atau pos persepsi.
(4)
Pembayaran
cukai MMEA yang dibuat di Indonesia dengan kadar etil alkohol sampai dengan
5% (lima persen) atau etil alkohol dilakukan dengan membayar tunai kecuali
bagi pengusaha pabrik yang mendapat kemudahan pembayaran secara berkala.
2.
Ketentuan Pasal 5 diubah dengan
menambah 1 (satu) huruf yakni huruf c, sehingga Pasal 5 berbunyi sebagai
berikut :
Pasal 5
Pelunasan cukai dengan cara
pelekatan pita cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b
dilakukan atas barang kena cukai berupa:
- hasil tembakau;
- MMEA yang diimpor untuk
dipakai dalam daerah pabean; dan
- MMEA yang dibuat di Indonesia
dengan kadar etil alkohol lebih dari 5% (lima persen).
3.
Ketentuan Pasal 6 ayat (1) dan
ayat (2) diubah, sehingga Pasal 6 berbunyi sebagai berikut :
Pasal
6
(1)
Pelekatan
pita cukai untuk:
- MMEA yang berasal dari
impor dilakukan di negara asal barang kena cukai, di tempat penimbunan
sementara, dan/atau di tempat penimbunan berikat; atau
- MMEA yang dibuat di
Indonesia dengan kadar etil alkohol lebih dari 5% (lima persen)
dilakukan di dalam pabrik.
(2)
Pita
cukai yang dilekatkan pada kemasan penjualan eceran MMEA sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus :
- sesuai dengan tarif cukai
dan kadar etil alkohol pada isi kemasan;
- merupakan hak importir
barang kena cukai berupa MMEA atau pengusaha pabrik yang bersangkutan
dan sesuai dengan peruntukannya;
- utuh, tidak rusak, dan/atau
bukan bekas pakai;
- tidak lebih dari satu
keping;
- dilekatkan pada kemasan
yang tertutup dan menutup tempat pembuka kemasan yang tersedia; dan
- dilekatkan tidak melebihi
batas waktu pelekatan pita cukai yang ditetapkan.
(3)
Dalam
hal pita cukai yang dilekatkan tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), cukai dianggap tidak dilunasi.
4.
Judul paragraf 2 diubah, sehingga
paragraf 2 berbunyi sebagai berikut:
Paragraf
2
Penyediaan dan Pemesanan Pita Cukai MMEA
5.
Ketentuan Pasal 8 ayat (1), ayat
(2), ayat (3), dan ayat (4) diubah, sehingga Pasal 8 berbunyi sebagai
berikut:
Pasal
8
(1)
Pita
cukai MMEA disediakan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan
di kantor.
(2)
Untuk
penyediaan pita cukai MMEA, importir barang kena cukai berupa, MMEA atau
pengusaha pabrik harus mengajukan permohonan penyediaan pita cukai kepada
kepala kantor dengan menggunakan permohonan penyediaan pita cukai MMEA
sesuai dengan contoh format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I
Peraturan Menteri Keuangan ini.
(3)
Setelah
mengajukan permohonan penyediaan pita cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
importir barang kena cukai berupa MMEA atau pengusaha pabrik melakukan
pemesanan pita cukai dengan menggunakan dokumen pemesanan pita cukai sesuai
dengan contoh format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan
Menteri Keuangan ini.
(4)
Dalam
hal importir barang kena cukai berupa MMEA atau pengusaha pabrik tidak
merealisasikan seluruh pita cukai yang telah diajukan permohonan penyediaan
pita cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai akhir tahun, dikenakan
biaya pengganti penyediaan pita cukai atas pita cukai yang tidak
direalisasikan.
(5)
Pembayaran
biaya pengganti penyediaan pita cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
dilakukan melalui bank persepsi atau pos persepsi.
6.
Lampiran I dan Lampiran II diubah,
sehingga menjadi sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I dan Lampiran II
Peraturan Menteri Keuangan ini, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan,
dari Peraturan Menteri Keuangan ini.
7.
Diantara Pasal 13 dan Pasal 14 disisipkan
1 (satu) pasal yakni Pasal 13A, sehingga berbunyi sebagai berikut :
Pasal
13A
(1)
Dengan
berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini :
- terhadap MMEA yang dibuat
di Indonesia dengan kadar etil alkohol lebih dari 5% (lima persen)
yang dikeluarkan, dari Pabrik sejak tanggal berlakunya Peraturan
Menteri Keuangan ini, wajib dilekati dengan pita cukai
- terhadap MMEA yang dibuat
di Indonesia dengan kadar etil alkohol lebih dari 5% (lima persen)
yang telah dikeluarkan dari Pabrik sebelum tanggal berlakunya
Peraturan Menteri Keuangan ini, masih dapat berada di peredaran bebas
paling lama tanggal 31 Maret 2010.
- terhadap MMEA yang dibuat
di Indonesia dengan kadar etil alkohol lebih dari 5% (lima persen)
yang berada di peredaran bebas dan belum dilekati pita cukai setelah
tanggal 31 Maret 2010, pejabat Bea dan Cukai dapat melakukan penegahan
dan memusnahkannya.
(2)
Untuk
kelancaran pelayanan pita cukai, penyediaan pita
cukai MMEA yang dibuat di Indonesia dengan kadar etil alkohol lebih
dari 5% (lima persen) dapat
dilaksanakan sebelum tanggalberlakunya Peraturan
Menteri Keuangan ini.
Pasal II
Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2010.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri
Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 16 Oktober 2009
MENTERI KEUANGAN,
ttd.
SRI MULYANI INDRAWATI
Diundangkan di Jakarta
Padatanggal 16 Oktober 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,
ttd.
ANDI MATTALATTA
BERITA
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 387
LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR
:
159/PMK.04/2009
TENTANG
:
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN
MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI
Lampiran I
P3C MMEA
Nomor
:
................... (1)
............................
Tanggal
:
................... (1)
............................
PERMOHONAN
PENYEDIAAN PITA CUKAI
MINUMAN YANG MENGANDUNG ETIL ALKOHOL
A.N. PT. ............. (3)...................... DI .............. (4)........
NPPBKC ...........(5)............... TANGGAL ..............(6) ...........
PERIODE PERSEDIAAN BULAN .................. (7) ...............
PENGAJUAN
(8)
LOKASI
PENYEDIAAN (9)
AWAL
KPPBC/KPU
TAMBAHAN
KP DJBC
NO
JENIS
MMEA
GOLONGAN
DAN
KADAR
ALKOHOL
VOLUME/ISI
KEMASAN
(ml/L)
JUMLAH
KEMASAN
JUMLAH
PESANAN
(LEMBAR
...(10)..
....(11)...
....(12)....
....(13)...
.....(14)....
.....(15)....
Atas pita cukai yang telah kami
pesan tersebut, apabila tidak direalisasikan dengan CK-1A sampai akhir tahun,
kami bersedia dikenakan biaya pengganti penyediaan pita cukai berdasarkan
ketentuan yang berlaku.
mengetahui
Kepala Kantor ............. (16).....
u.b
Kepala Seksi ............... (17)......
...........(18)....................................
NIP ......(19)....................................
...(20)...., ........(21).....
Pengusaha Pabrik/Importir
MATERAI
TEMPEL
.........(22)........................
PETUNJUK
PENGISIAN
Nomor (1)
:
Diisi nomor surat.
Nomor (2)
:
Diisi tanggal surat.
Nomor (3)
:
Diisi nama pabrik atau perusahaan
yang mengajukan.
Nomor (4)
:
Diisi lokasi pabrik atau
perusahaan yang mengajukan.
Nomor (5)
:
Diisi NPPBKC yang bersangkutan.
Nomor (6)
:
Diisi tanggal NPPBKC.
Nomor (7)
:
Diisi periode persediaan pita
cukai, misalnya: Januari 2010
Nomor (8)
:
Diisi pengajuan P3C dengan memilih
salah satu periode pengajuan di bawahnya.
Nomor (9)
:
Diisi lokasi penyediaan pita cukai
dengan memilih salah satu lokasi di bawahnya.
Nomor (10)
:
Diisi nomor urut.
Nomor (11)
:
Diisi jenis MMEA yang
diajukan penyediaan pitanya.
Nomor (12)
:
Diisi golongan dan kadar alkolohol
MMEA yang diajukan penyediaan pita cukainya.
Nomor (13)
:
Diisi volume/isi kemasan MMEA
dalam ml/Liter.
Nomor (14)
:
Diisi jumlah kemasan MMEA.
Nomor (15)
:
Diisi jumlah pesanan pita cukainya
dalam lembar.
Nomor (16)
:
Diisi kantor dimana P3CM diajukan.
Nomor (17)
:
Diisi unit yang menangani P3CM.
Nomor (18)
:
Diisi tanda tangan dan nama
pejabat bea dan cukai yang menandatangani P3CM.
Nomor (19)
:
Diisi NIP pejabat bea dan cukai
yang menandatangani P3CM.
Nomor (20)
:
Diisi lokasi P3CM diajukan.
Nomor (21)
:
Diisi tanggal P3CM diajukan.
Nomor (22)
:
Diisi tanda tangan di atas materai
dan nama lengkap importir yang mengajukan P3CM.
Salinan sesuai dengan aslinya,
Kepala Biro Umum
u.b.
Kepala Bagian T.U. Departemen
ttd.
Antonius Suharto
NIP 060041107
MENTERI KEUANGAN
ttd.
SRI MULYANI INDRAWATI
LAMPIRAN II
PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR
:
159/PMK.04/2009
TENTANG
:
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN
MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI
Diisi
oleh KPPBC ........(1)
Nomor
:
Tanggal
:
Kode
Kantor
:
CK-1A
Lembar: Asli/Kedua/Ketiga
PEMESANAN
PITA CUKAI MMEA
1.
Nama Pabrik/Importir
:
..............................................
(2) ................................................
2.
Alamat Pabrik/Importir
:
..............................................
(3) ................................................
3.
Nama Pabrik/Importir
:
..............................................
(4) ................................................
4.
NPPBKC
:
..............................................
(5) ................................................
5.
Yang Diberi Kuasa
:
..............................................
(6) ................................................
6.
Cara Pembayaran
:
Tunai/Kredit*)
7.
Jenis MMEA
:
..............................................
(7) ................................
8.
Golongan Tarif Cukai
:
9.
Warna Pita Cukai :
Seri
Merek
Kemasan
Isi
Gol
tarif
cukai
Lembar
Jumlah
gol tarif cukai x Lbr x Seri
Jumlah
Cukai (Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
...(8)..
...(9)..
...(10)..
...(11)..
...(12)..
...(13)..
...(14)..
...(15)..
Jumlah
10
Dikurangi pengembalian cukai
sesuai CK ...(16).. Nomor ........ (16) ........... Tanggal (16)......... =
Rp
...(17)..
Jumlah cukai yang seharusnya
dibayar = Rp
...(18)..
11.
Catatan Petugas
Nomor
.................. (19)...........
Diserahkan
Pita Cukai
Tanggal
.................. (19)...........
Petugas
Bea dan Cukai,
.................. (19)...........
NIP ............................
Setuju Dilayani
Pejabat Bea dan Cukai
........... (22)................
NIP ............................
.......(23)......... ,
...............
Pengusaha Pabrik/Importir/Kuasa, *)
............(24).....................
*) Coret yang tidak perlu
Halaman 2
I.
Kolom
untuk Bendaharawan
1.
Bendaharawan
DJBC di ........................................
(25)...................................
2.
Menerangkan
bahwa Pabrik/Importir*) di ............... (26)
..................................
3.
Dokumen
pemesanan pita cukai Nomor ............................ tanggal
................... (27)......
4.
Jumlah
cukai yang seharusnya dibayar Rp ....................
(28)...........................
(......................................................................(29).........................................)
5.
Pelunasan
cukai secara tunai :
Dengan SSCP Nomor .................................. tanggal
....................................... ....(30)....
6.
Pelunasan
cukai secara kredit :
Dibukukan dalam Buku Rekening Kredit
Jilid ........................., Folio .......................,
Pos............................... .....(31)......
7.
Penundaan
pembayaran berakhir tanggal ................ (32) .......................
8.
Jenis
jaminan ................... (33) .............. Nilai jaminan Rp
........................ (34) .................
9.
Nomor/Tanggal
Bukti Penerimaan Jaminan ...............(36).................
.............(37)........,........(38)........
Bendaharawan DJBC,
................(39)................
NIP ......................................
II.
Tanda
Terima Pita Cukai
1.
Nama
Penerima Pita Cukai
:
..............................................
(40) ................................
2.
Alamat
Penerima Pita Cukai
:
..............................................
(41) ................................
3.
Kuasa
dari
:
..............................................
(42) ................................
Pada hari ini telah menerima
Pita Cukai yang dipesan dengan dokumen pemesanan CK-1A Nomor
..................... tanggal ...................... ....(43)....
Yang
menyerahkan:
Pejabat Bea dan Cukai
...............(44)...................
NIP...............................
................(45)...........,.....................
Yang menerima:
Pengusaha Importir/Kuasa, *)
....................(46)........................
III.
Penyerahan Pita Cukai
Diberitahukan kepada Bendaharawan DJBC di
.............................(47)............................................,
Bahwa Pita Cukai yang dipesan dengan dokumen pemesanan CK-1A Nomor
.....................(48).................. tanggal
............(48).............. telah diserahkan pada tanggal
.............(48)...........
.............(49)........,.....................
Bendaharawan DJBC,
................(50).........................
NIP ................................
PETUNJUK
PENGISIAN
Nomor (1)
:
Diisi nomor, tanggal penerimaan
dokumen, dan kode kantor penerima dokumen.
Nomor (2)
:
Diisi nama pabrik atau perusahaan
importir.
Nomor (3)
:
Diisi alamat pabrik atau
perusahaan importir.
Nomor (4)
:
Diisi nama pengusaha pabrik atau
importir.
Nomor (5)
:
Diisi NPPBKC.
Nomor (6)
:
Diisi nama yang diberi kuasa.
Nomor (7)
:
Diisi jenis MMEA, misalnya:
whiskey.
Nomor (8)
:
Diisi seri pita cukai.
Nomor (9)
:
Diisi merek MMEA.
Nomor (10)
:
Diisi jumlah kemasan.
Nomor (11)
:
Diisi jumlah isi per kemasan.
Nomor (12)
:
Diisi tarif cukai berdasarkan
golongan MMEA.
Nomor (13)
:
Diisi jumlah lembar pita cukai
yang dipesan.
Nomor (14)
:
Diisi jumlah dalam rupiah.
Nomor (15)
:
Diisi jumlah nilai cukai yang
seharusnya dibayar.
Nomor (16)
:
Diisi jenis, nomor, dan tanggal
dokumen pengembalian.
Nomor (17)
:
Diisi nilai pengembalian.
Nomor (18)
:
Diisi jumlah nilai cukai yang
seharusnya dibayar.
Nomor (19)
:
Diisi nomor agenda penyerahan pita
cukai.
Nomor (20)
:
Diisi tanggal penyerahan pita
cukai.
Nomor (21)
:
Diisi tanda tangan dan nama
petugas yang menyerahkan pita cukai.
Nomor (22)
:
Diisi tanda tangan dan nama
pejabat yang memberikan persetujuan.
Nomor (23)
:
Diisi nama kota, tanggal, bulan,
dan tahun permohonan
Nomor (24)
:
Diisi tanda tangan, nama jelas
pemohon, dan stempel perusahaan.
Nomor (25)
:
Diisi kantor tempat permohonan
diajukan.
Nomor (26)
:
Diisi nama dan lokasi perusahaan.
Nomor (27)
:
Diisi nomor dan tanggal dokumen
pemesanan pita cukai.
Nomor (28)
:
Diisi dengan angka, jumlah nilai
cukai yang seharusnya dibayar.
Nomor (29)
:
Diisi dengan huruf, jumlah nilai
cukai yang seharusnya dibayar.
Nomor (30)
:
Diisi nomor dan tanggal SSPCP.
Nomor (31)
:
Diisi berdasarkan data dari buku
rekening kredit.
Nomor (32)
:
Diisi tanggal jatuh tempo
penundaan.
Nomor (33)
:
Diisi jenis jaminan yang
diserahkan.
Nomor (34)
:
Diisi dengan angka, nilai jaminan
yang diserahkan.
Nomor (35)
:
Diisi dengan huruf, nilai
jaminan yang diserahkan.
Nomor (36)
:
Diisi nomor dan tanggal bukti
penerimaan jaminan.
Nomor (37)
:
Diisi kota tempat kantor.
Nomor (38)
:
Diisi tanggal, bulan, dan tahun.
Nomor (39)
:
Diisi tanda tangan, nama, NIP, dan
stempel kantor.
Nomor (40)
:
Diisi nama yang menerima pita
cukai.
Nomor (41)
:
Diisi alamat yang menerima pita
cukai (sesuai tanda pengenal).
Nomor (42)
:
Diisi nama perusahaan/nama
pengusaha.
Nomor (43)
:
Diisi nomor dan tanggal dokumen
pemesanan.
Nomor (44)
:
Diisi tanda tangan, nama, dan NIP
pejabat yang menyerahkan pita cukai.
Nomor (45)
:
Diisi kota, tanggal, bulan, dan
tahun diterima.
Nomor (46)
:
Diisi tanda tangan dan nama terang
penerima pita cukai.
Nomor (47)
:
Diisi nama kantor tempat
permohonan diajukan.
Nomor (48)
:
Diisi nomor dan tanggal dokumen
pemesanan dan tanggal penyerahan pita cukai.
Nomor (49)
:
Diisi kota, tanggal, bulan, dan
tahun penyerahan pita cukai.
Nomor (50)
:
Diisi tanda tangan, nama terang,
dan NIP pejabat yang menyetujui penyerahan.
Salinan sesuai dengan aslinya,
Kepala Biro Umum
u.b.
Kepala Bagian T.U. Departemen
ttd.
Antonius Suharto
NIP 060041107
MENTERI KEUANGAN
ttd.
SRI MULYANI INDRAWATI
PERATURAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 159/PMK.04/2009
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
- bahwa untuk meningkatkan pengawasan terhadap peredaran
minuman mengandung etil alkohol buatan dalam negeri perlu dilakukan
penyempurnaan ketentuan yang mengatur mengenai cara pelunasan cukai;
- bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan
Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2008 tentang
Pelunasan Cukai;
Mengingat :
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3613) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang
Nomor 39 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4755);
- Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005;
- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2008
tentang Pelunasan Cukai sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 09/PMK.04/2009;
MEMUTUSKAN
:
Menetapkan :
PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI
KEUANGAN NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2008
tentang Pelunasan Cukai sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 09/PMK.04/2009, diubah sebagai berikut:
|
1. |
Ketentuan Pasal 4 ayat (1), ayat
(2), dan ayat (4) diubah, sehingga Pasal 4 berbunyi sebagai berikut : Pasal
4
|
||||||||||
|
2. |
Ketentuan Pasal 5 diubah dengan
menambah 1 (satu) huruf yakni huruf c, sehingga Pasal 5 berbunyi sebagai
berikut : Pasal 5 Pelunasan cukai dengan cara
pelekatan pita cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b
dilakukan atas barang kena cukai berupa:
|
||||||||||
|
3. |
Ketentuan Pasal 6 ayat (1) dan
ayat (2) diubah, sehingga Pasal 6 berbunyi sebagai berikut : Pasal
6
|
||||||||||
|
4. |
Judul paragraf 2 diubah, sehingga
paragraf 2 berbunyi sebagai berikut: Paragraf
2 |
||||||||||
|
5. |
Ketentuan Pasal 8 ayat (1), ayat
(2), ayat (3), dan ayat (4) diubah, sehingga Pasal 8 berbunyi sebagai
berikut: Pasal
8
|
||||||||||
|
6. |
Lampiran I dan Lampiran II diubah,
sehingga menjadi sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I dan Lampiran II
Peraturan Menteri Keuangan ini, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan,
dari Peraturan Menteri Keuangan ini. |
||||||||||
|
7. |
Diantara Pasal 13 dan Pasal 14 disisipkan
1 (satu) pasal yakni Pasal 13A, sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal
13A
|
Pasal II
Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2010.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri
Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 16 Oktober 2009
MENTERI KEUANGAN,
ttd.
SRI MULYANI INDRAWATI
Diundangkan di Jakarta
Padatanggal 16 Oktober 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,
ttd.
ANDI MATTALATTA
BERITA
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 387
|
LAMPIRAN I |
|||
|
PERATURAN MENTERI KEUANGAN |
|||
|
NOMOR |
: |
159/PMK.04/2009 |
|
|
TENTANG |
: |
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN
MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI |
|
|
Lampiran I |
|||
|
Nomor |
: |
................... (1)
............................ |
|
|
Tanggal |
: |
................... (1)
............................ |
PERMOHONAN
PENYEDIAAN PITA CUKAI
MINUMAN YANG MENGANDUNG ETIL ALKOHOL
A.N. PT. ............. (3)...................... DI .............. (4)........
NPPBKC ...........(5)............... TANGGAL ..............(6) ...........
PERIODE PERSEDIAAN BULAN .................. (7) ...............
|
PENGAJUAN
(8) |
LOKASI
PENYEDIAAN (9) |
||||
|
AWAL |
|
KPPBC/KPU |
||
|
TAMBAHAN |
|
KP DJBC |
|
NO |
JENIS
MMEA |
GOLONGAN |
VOLUME/ISI |
|
JUMLAH |
|
...(10).. |
....(11)... |
....(12).... |
....(13)... |
.....(14).... |
.....(15).... |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Atas pita cukai yang telah kami
pesan tersebut, apabila tidak direalisasikan dengan CK-1A sampai akhir tahun,
kami bersedia dikenakan biaya pengganti penyediaan pita cukai berdasarkan
ketentuan yang berlaku. |
|
mengetahui |
...(20)...., ........(21)..... Pengusaha Pabrik/Importir
.........(22)........................ |
PETUNJUK
PENGISIAN
|
Nomor (1) |
: |
Diisi nomor surat. |
|
Nomor (2) |
: |
Diisi tanggal surat. |
|
Nomor (3) |
: |
Diisi nama pabrik atau perusahaan
yang mengajukan. |
|
Nomor (4) |
: |
Diisi lokasi pabrik atau
perusahaan yang mengajukan. |
|
Nomor (5) |
: |
Diisi NPPBKC yang bersangkutan. |
|
Nomor (6) |
: |
Diisi tanggal NPPBKC. |
|
Nomor (7) |
: |
Diisi periode persediaan pita
cukai, misalnya: Januari 2010 |
|
Nomor (8) |
: |
Diisi pengajuan P3C dengan memilih
salah satu periode pengajuan di bawahnya. |
|
Nomor (9) |
: |
Diisi lokasi penyediaan pita cukai
dengan memilih salah satu lokasi di bawahnya. |
|
Nomor (10) |
: |
Diisi nomor urut. |
|
Nomor (11) |
: |
Diisi jenis MMEA yang
diajukan penyediaan pitanya. |
|
Nomor (12) |
: |
Diisi golongan dan kadar alkolohol
MMEA yang diajukan penyediaan pita cukainya. |
|
Nomor (13) |
: |
Diisi volume/isi kemasan MMEA
dalam ml/Liter. |
|
Nomor (14) |
: |
Diisi jumlah kemasan MMEA. |
|
Nomor (15) |
: |
Diisi jumlah pesanan pita cukainya
dalam lembar. |
|
Nomor (16) |
: |
Diisi kantor dimana P3CM diajukan. |
|
Nomor (17) |
: |
Diisi unit yang menangani P3CM. |
|
Nomor (18) |
: |
Diisi tanda tangan dan nama
pejabat bea dan cukai yang menandatangani P3CM. |
|
Nomor (19) |
: |
Diisi NIP pejabat bea dan cukai
yang menandatangani P3CM. |
|
Nomor (20) |
: |
Diisi lokasi P3CM diajukan. |
|
Nomor (21) |
: |
Diisi tanggal P3CM diajukan. |
|
Nomor (22) |
: |
Diisi tanda tangan di atas materai
dan nama lengkap importir yang mengajukan P3CM. |
|
|
MENTERI KEUANGAN |
|
LAMPIRAN II |
|||
|
PERATURAN MENTERI KEUANGAN |
|||
|
NOMOR |
: |
159/PMK.04/2009 |
|
|
TENTANG |
: |
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN
MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.04/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI |
|
|
CK-1A |
||||||||||||||||||||||||||||||||||
PEMESANAN
PITA CUKAI MMEA
|
1. |
Nama Pabrik/Importir |
: |
..............................................
(2) ................................................ |
||||||||
|
2. |
Alamat Pabrik/Importir |
: |
..............................................
(3) ................................................ |
||||||||
|
3. |
Nama Pabrik/Importir |
: |
..............................................
(4) ................................................ |
||||||||
|
4. |
NPPBKC |
: |
..............................................
(5) ................................................ |
||||||||
|
5. |
Yang Diberi Kuasa |
: |
..............................................
(6) ................................................ |
||||||||
|
6. |
Cara Pembayaran |
: |
|
||||||||
|
7. |
Jenis MMEA |
: |
|
||||||||
|
8. |
Golongan Tarif Cukai |
: |
|
|
Seri |
Merek |
Kemasan |
Isi |
Gol
tarif |
Lembar |
Jumlah |
Jumlah
Cukai (Rp) |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
|
...(8).. |
...(9).. |
...(10).. |
...(11).. |
...(12).. |
...(13).. |
...(14).. |
...(15).. |
|
Jumlah |
|
|
|
|
|||
|
10 |
Dikurangi pengembalian cukai
sesuai CK ...(16).. Nomor ........ (16) ........... Tanggal (16)......... =
Rp |
|
|
|
Jumlah cukai yang seharusnya
dibayar = Rp |
|
||
|
11. |
Catatan Petugas |
|
|
Nomor |
Diserahkan
|
Tanggal |
Petugas
Bea dan Cukai, |
|
Setuju Dilayani |
.......(23)......... ,
............... |
*) Coret yang tidak perlu
Halaman 2
|
|
|
|||||||||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||||||||
PETUNJUK
PENGISIAN
|
Nomor (1) |
: |
Diisi nomor, tanggal penerimaan
dokumen, dan kode kantor penerima dokumen. |
|
Nomor (2) |
: |
Diisi nama pabrik atau perusahaan
importir. |
|
Nomor (3) |
: |
Diisi alamat pabrik atau
perusahaan importir. |
|
Nomor (4) |
: |
Diisi nama pengusaha pabrik atau
importir. |
|
Nomor (5) |
: |
Diisi NPPBKC. |
|
Nomor (6) |
: |
Diisi nama yang diberi kuasa. |
|
Nomor (7) |
: |
Diisi jenis MMEA, misalnya:
whiskey. |
|
Nomor (8) |
: |
Diisi seri pita cukai. |
|
Nomor (9) |
: |
Diisi merek MMEA. |
|
Nomor (10) |
: |
Diisi jumlah kemasan. |
|
Nomor (11) |
: |
Diisi jumlah isi per kemasan. |
|
Nomor (12) |
: |
Diisi tarif cukai berdasarkan
golongan MMEA. |
|
Nomor (13) |
: |
Diisi jumlah lembar pita cukai
yang dipesan. |
|
Nomor (14) |
: |
Diisi jumlah dalam rupiah. |
|
Nomor (15) |
: |
Diisi jumlah nilai cukai yang
seharusnya dibayar. |
|
Nomor (16) |
: |
Diisi jenis, nomor, dan tanggal
dokumen pengembalian. |
|
Nomor (17) |
: |
Diisi nilai pengembalian. |
|
Nomor (18) |
: |
Diisi jumlah nilai cukai yang
seharusnya dibayar. |
|
Nomor (19) |
: |
Diisi nomor agenda penyerahan pita
cukai. |
|
Nomor (20) |
: |
Diisi tanggal penyerahan pita
cukai. |
|
Nomor (21) |
: |
Diisi tanda tangan dan nama
petugas yang menyerahkan pita cukai. |
|
Nomor (22) |
: |
Diisi tanda tangan dan nama
pejabat yang memberikan persetujuan. |
|
Nomor (23) |
: |
Diisi nama kota, tanggal, bulan,
dan tahun permohonan |
|
Nomor (24) |
: |
Diisi tanda tangan, nama jelas
pemohon, dan stempel perusahaan. |
|
Nomor (25) |
: |
Diisi kantor tempat permohonan
diajukan. |
|
Nomor (26) |
: |
Diisi nama dan lokasi perusahaan. |
|
Nomor (27) |
: |
Diisi nomor dan tanggal dokumen
pemesanan pita cukai. |
|
Nomor (28) |
: |
Diisi dengan angka, jumlah nilai
cukai yang seharusnya dibayar. |
|
Nomor (29) |
: |
Diisi dengan huruf, jumlah nilai
cukai yang seharusnya dibayar. |
|
Nomor (30) |
: |
Diisi nomor dan tanggal SSPCP. |
|
Nomor (31) |
: |
Diisi berdasarkan data dari buku
rekening kredit. |
|
Nomor (32) |
: |
Diisi tanggal jatuh tempo
penundaan. |
|
Nomor (33) |
: |
Diisi jenis jaminan yang
diserahkan. |
|
Nomor (34) |
: |
Diisi dengan angka, nilai jaminan
yang diserahkan. |
|
Nomor (35) |
: |
Diisi dengan huruf, nilai
jaminan yang diserahkan. |
|
Nomor (36) |
: |
Diisi nomor dan tanggal bukti
penerimaan jaminan. |
|
Nomor (37) |
: |
Diisi kota tempat kantor. |
|
Nomor (38) |
: |
Diisi tanggal, bulan, dan tahun. |
|
Nomor (39) |
: |
Diisi tanda tangan, nama, NIP, dan
stempel kantor. |
|
Nomor (40) |
: |
Diisi nama yang menerima pita
cukai. |
|
Nomor (41) |
: |
Diisi alamat yang menerima pita
cukai (sesuai tanda pengenal). |
|
Nomor (42) |
: |
Diisi nama perusahaan/nama
pengusaha. |
|
Nomor (43) |
: |
Diisi nomor dan tanggal dokumen
pemesanan. |
|
Nomor (44) |
: |
Diisi tanda tangan, nama, dan NIP
pejabat yang menyerahkan pita cukai. |
|
Nomor (45) |
: |
Diisi kota, tanggal, bulan, dan
tahun diterima. |
|
Nomor (46) |
: |
Diisi tanda tangan dan nama terang
penerima pita cukai. |
|
Nomor (47) |
: |
Diisi nama kantor tempat
permohonan diajukan. |
|
Nomor (48) |
: |
Diisi nomor dan tanggal dokumen
pemesanan dan tanggal penyerahan pita cukai. |
|
Nomor (49) |
: |
Diisi kota, tanggal, bulan, dan
tahun penyerahan pita cukai. |
|
Nomor (50) |
: |
Diisi tanda tangan, nama terang,
dan NIP pejabat yang menyetujui penyerahan. |
|
|
MENTERI KEUANGAN |
Sponsor Link

Premium KKP


Kurs Pajak
Mata Uang |
Nilai Jual |
| Dollar Amerika Serikat (USD) | 9,560.60 |
| Dollar Australia (AUD) | 8,718.88 |
| Dollar Kanada (CAD) | 8,937.48 |
| Kroner Denmark (DKK) | 1,902.46 |
| Dollar Hongkong (HKD) | 1,233.60 |
| Ringgit Malaysia (MYR) | 2,805.83 |
| Dollar Selandia Baru (NZD) | 7,032.01 |
| Kroner Norwegia (NOK) | 1,688.94 |
| Poundsterling Inggris (GBP) | 15,717.24 |


